Tampilkan postingan dengan label GEOFISIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEOFISIKA. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Desember 2010

PENEMUAN, BENTUK KEHIDUPAN BARU

Seringkali kita bertanya apakah di luar Bumi kita ini ada kehidupan lain ataukah tidak. Membayangkan bahwa kita ini hanya sendirian di alam semesta yang begitu luasnya ini terasa begitu menyeramkan, namun hingga kini kita belum menemukan bukti adanya kehidupan (bahkan yang paling sederhana pun) di luar Bumi.

Semenjak sekitar lima puluh tahun lalu, manusia mulai menggunakan teleskop radio untuk mencari kehidupan cerdas di luar Bumi. Hingga kini sudah ada beberapa program pencarian kehidupan cerdas, namun hingga kini belum ada hasil. Dari ranah teoritis, hipotesis juga dibangun misalnya dengan memprediksi berapa jumlah kehidupan cerdas yang dapat muncul di alam semesta seperti yang kita huni. Namun persoalan ini pada umumnya terantuk pada satu permasalahan mendasar: kehidupan seperti apa yang kita maksud? Berhubung hingga saat ini kita tidak memiliki konsensus mengenai definisi kehidupan, dan juga karena kita hanya mengenal kehidupan di Bumi, maka definisi kehidupan dalam konteks ini adalah “kehidupan sebagaimana kita ketahui” (life as we know it).

Definisi itu kini telah diperluas dengan ditemukannya jasad renik yang menggunakan arsenik sebagai bagian dari metabolismenya. Di sebuah danau bernama Mono Lake di California, Amerika Serikat, sekelompok peneliti yang dibiayai NASA menemukan mikroorganisme pertama yang diketahui dapat hidup dan bereproduksi dengan menggunakan unsur beracun (bagi kehidupan lain).

Selama ini, kehidupan sebagaimana kita ketahui mengandung enam unsur dasar: Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosfor, dan Belerang. Fosfor adalah bagian penting dalam DNA dan RNA, yang merupakan struktur dasar setiap bentuk kehidupan di Bumi dan membawa informasi genetik suatu jasad.

Dalam setiap sel makhluk hidup terdapat molekul-molekul bernama ATP yang bertugas menyalurkan energi. Komponen penting molekul ini adalah Fosfor. Secara kimia, struktur Arsenik sama dengan Fosfor, namun Arsenik beracun bagi kebanyakan makhluk hidup di Bumi.



Beberapa jasad renik memiliki kemampuan untuk berfotosintesis dengan menggunakan arsenik karena ketiadaan oksigen, namun jasad renik yang ditemukan di Mono Lake ini menggunakan arsenik sebagai bagian dari dirinya. Arsenik menjadi salah satu komponen penyusun DNA dan RNA jasad renik ini.

Mono Lake sendiri dipilih sebagai lokasi penelitian karena danau ini memliki kadar garam yang tinggi, zat alkali yang tinggi, dan juga kandungan arsenik yang tinggi. Susunan kimia yang tak biasa ini adalah karena Mono Lake sudah terisolisasi dari sumber-sumber air bersih selama 50 tahun.

Mikroba yang disebut GFAJ-1 ini adalah anggota dari sekelompok bakteri yang dinamakan Gammaproteobacteria. Bakteri ini dibawa ke laboratorium lalu diberi “makanan” yang sangat sedikit fosfor namun mengandung banyak arsenik. Ketika fosfor dihilangkan dari menu dan diganti seluruhnya dengan arsenik, mikroba tersebut terus berkembang (gambar ada di samping). Ternyata komponen arsenik tersebut diikutkan ke dalam struktur mikroba tersebut lain, antara lain ke dalam DNA, protein, dan membran sel.

Penemuan ini telah membuka wawasan kita mengenai definisi kehidupan. Ternyata kehidupan dapat muncul dari kondisi yang tidak berkenan bagi kehidupan model lain. Bila di Planet Bumi kehidupan seperti ini dapat tumbuh subur, bukan tidak mungkin jasad renik semacam ini pun dapat muncul di planet lain. Dengan kata lain, bentuk kehidupan yang dapat muncul di alam ini dapat sangat berbeda dengan yang selama ini kita ketahui. Kehidupan berbasis karbon kini bukan satu-satunya alternatif yang ada.

Sewaktu kecil saya menonton salah satu episode serial Star Trek mengenai kehidupan berbasis silikon. Spock melakukan peleburan pikiran (mind meld) dengan makhluk ini dan menyadari bahwa kehidupan ini adalah kehidupan cerdas. Dua tahun lalu, saat saya sedang mengambil S2 di Observatorium Leiden, seorang ahli kimia organik memberikan kolokium dan mengatakan bahwa kehidupan berbasis silikon adalah fiksi ilmiah dan tidak mungkin muncul. Saya kini ingin tahu apa pendapatnya setelah adanya penemuan di Mono Lake ini.

SUMBER: langit selatan.

Selasa, 09 November 2010

PREKURSOR BERDASARKAN DATA GPS


Untuk tahu lebih jauh, seperti apa data GPS (Global Position System) memberikan data sebagai prekursor (tanda-tanda) gempabumi, silahkan download artikel di bawah ini. artikel ini disusun oleh RUDI DARSONO, beliau susun sewaktu masih kuliah semester VI AMG (Akademi Meteorologi dan Geofisika). KLIK TAUTAN INI UNTUK DOWNLOAD:

DATA GPS(RUDI DARSONO)

Minggu, 07 November 2010

Peta Zonasi Bahaya Lahar Dingin G. MERAPI


Selain ancaman lava, lahar, dan awanpanas kini hujan deras menyebabkan Gunung Merapi juga menyebabkan adanya daerah rawan bahaya lahar dingin. Lahar dingin merupakan aliran sedimen pekat yang teridiri atas batu, kerikil, pasir serta abu vulkanik yang tercampur air.
Peta yang dikeluarkan oleh BNPB untuk daerah rawan banjir lahar dingin terlihat dibawah ini :


Zonasi ini didasarkan pada buffer zone 300 meter sepanjang sungai yang hulunya di lereng Gunung Merapi.

Proses terjadinya lahar dingin secara grafis dijelaskan dibawah ini:



Ketika meluncur dari puncak Merapi, material ini berupa material piroklastik yang menyebabkan terbentuknya awanpanas. ISinya terdiri atas batuan berukuran bongkah, kerakal, kerikil, pasir hingga debu panas. Setelah di daerah produksi ini terkena hujan maka di daerah transportasi di lerengnya akan memiliki energi sangat tinggi yang mampu merusak apa saja yang dilewatinya. Seterusnya ketika sampai dibawah maka akan terjadi proses sedimentasi dari pasir-pasir ini sebagai endapan material vulkanik yang sering kita lihat di tebing-tebing sungai ditengah perkotaan Jogja.

SUMBER; DONGENG GEOLOGI

Gempa ringan mengikuti aktivitas G. Merapi 7 November 2010



Pak Surono Kembali melaporkan kegiatan Merapi Selama 24 Jam pada tanggal 7 Nov 2010. Hasil Pengamatan visual G. Merapi dari Bogem, melaporkan bahwa lava pijar mengalir ke Baratdaya dengan jarak luncur 600 m (Kali Gendol, K. Boyong, dan K. Bebeng). Dari Ketep, dilaporkan terdengar suara gemuruh sangat kuat selama 7 menit. Pada pukul 23:08 WIB, terjadi gempa tektonik berkekuatan 3,8 SR dengan sumber gempa berada di Kab. Wonosari (Baratdaya G.Merapi) bekedalaman 10 km. Kolom asap nampak tinggi dan pekat dengan condong ke Baratdaya.

Masih dalam radius diatas 20Km


Menurut Pak Surono, berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 7 November 2010 mulai pukul 18:00 WIB sampai dengan pukul 24:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya G. Merapi dapat berupa awanpanas dan lahar.

Wilayah yang aman bagi para pengungsi adalah di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi masih tetap berlaku.

Masih tetap disarankan untuk tidak melakukan aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awanpanas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Baratlaut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.

Juga diharapkan segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.

sumber :dongeng geologi

INDONESIA DAN JEPANG TANGANI TSUNAMI


Jepang dan Indonesia memiliki persamaan yaitu terletak di kawasan rawan bencana, baik tsunami dan gempa. Bedanya, Jepang menanggulangi bencana dengan optimal. Caranya?

JEPANG

Jepang memiliki beberapa organisasi yang menangani bencana alam diantaranya Japan Metorological Agency (JMA), Geology Survey Japan (GSJ) dan Earth Remote Sensing Data Analysis Center (ERSDAC).

Sebagai badan utama, JMA mengoperasikan jaringan pengamatan gempa berupa 200 alat seismograf dan 600 seismik intensif. Mereka juga mengumpulkan data dari 3.600 alat pengukur seismik yang dikelola pemerintah daerah dan National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED). Data ini juga masuk di bagian Earthquake Phenomena Observation System (EPOS) di Tokyo dan Observatorium Meteorologi di distrik Osaka.

Ketika gempa terjadi, JMA segera mendapatkan informasi mengenai hiposenter, magnitudo gempa dan intensitas seismik. Jika intensitas gempa lebih besar dari tiga, lembaga ini segera mengeluarkan laporan gempa. Informasi biasanya keluar kurang dari setengah menit setelah gempa.

Selanjutnya, informasi diberikan kepada pejabat pencegahan bencana melalui jaringan komunikasi khusus untuk mencapai masyarakat di sektiar gempa lewat pemerintah daerah dan media. Bagi Jepang, informasi ini berperan sangat penting untuk memulai operasi penyelamatan terkait gempa dan dampak lanjutan, tsunami misalnya. Intensitas gempa di Jepang menggunakan skala 1 sampai 7 dengan nilai 7 tertinggi.

Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang memberikan pengumuman perkiraan intensitas seismik dan estimasi perkiraan waktu kedatangan gerak pokok pada saat gempa awal terjadi. Estimasi ini didasarkan pada analisis segera fokus gempa dan gelombang besar dengan menggunakan data yang diperoleh dari seismograf di dekat pusat gempa.

Sistem Peringatan Dini Gempa ditujukan untuk mengurangi kerusakan gempa terkait dengan tindakan pencegahan yang memungkinkan seperti segera memperlambat kereta, mengendalikan lift untuk menghindari bahaya dan memungkinkan orang untuk dengan cepat melindungi diri di berbagai lingkungan seperti pabrik, kantor, rumah dan dekat tebing.

Untuk tsunami sendiri, setelah Gempa, JMA langsung memperkirakan kemungkinan tsunami dari data observasi seismik. Jika tsunami mungkin terjadi di daerah pesisir, JMA mengeluarkan peringatan Tsunami sekitar dua menit setelah gempa. Jika tsunami terjadi di wilayah yang jauh, JMA akan melakukan koordinasi langsung dengan Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.

Di Jepang, wilayah paling berbahaya adalah kawasan gempa Tokai, biasanya gempa berkekuatan di atas 8 SM. Ini terletak di daerah Suruga Bay. Mekanisme yang mereka lakukan sangat terperinci di mana setiap badan harus tahu seluruh kejadian saat berlangsung.

Persiapan detil memang harus dilakukan mengingat Jepang memiliki 108 gunung vulkanik aktif dengan sekitar 15 gempa vulkanik setiap tahun.

INDONESIA
Indonesia dinilai sebagai negara yang paling maju dalam kesiapan menghadapi bencana tsunami dibandingkan dengan negara-negara lain yang rawan bencana alam tersebut.

"Dalam sistem kesiapsiagaan masyarakat dan pendidikan publik, Indonesia yang paling maju, bahkan dapat menjadi rujukan bagi negara-negara di Samudera Hindia. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia juga yang paling kompleks," kata Deputi Jasa Ilmiah LIPI, Jan Sopaheluwakan, di Jakarta, Senin.

Penilaian itu dilakukan oleh komunitas Tsunami Warning System (TWS) dunia dan TWS Samudera Hindia, juga berdasarkan penilaian resmi yang akan dilakukan oleh IOC (International Oceanographic Committee)-UNESCO, melalui Intergovermental Coordination Group of Indian Ocean TWS (ICG-IOTWS) yang dipimpin Jan.

"Indonesia melibatkan 16 instansi dalam urusan sistem peringatan dini tsunami (tsunami early warning system/TEWS), yang masing-masing punya tanggung jawab yang kemudian terintegrasi dalam satu sistem," katanya.

Sebanyak 16 instansi tersebut dari mulai BMG untuk koordinasi sistem, BPPT untuk pembuatan dan penempatan buoy (pelampung) tsunami, LIPI yang memberikan pelatihan evakuasi bencana gempa dan tsunami, Bakosurtanal membuat pemetaan bencana hingga pemerintah daerah untuk urusan operasional ketika bencana.

Jan mengatakan, pada akhir 2009, sebanyak 28 negara yang tergabung dalam Indian Ocean Wave, yakni negara-negara Asia Pasifik yang terkena dampak tsunami pada 26 Desember 2004, akan melakukan simulasi evakuasi bencana tsunami secara serempak.

Ketua IOC itu mengatakan, dalam kesempatan itu setiap negara menguji semua sistem peringatan dini tsunaminya, dari mulai saat ditentukan terjadi gempa, kemudian kesiapan menghadapi tsunami yang terus merambat ke berbagai tempat di sepanjang samudera Hindia.

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan IOC-ICG-IOTWS pada 10-11 April 2008 di Kuala Lumpur. Saat itu delegasi Indonesia dipimpin deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Ristek Idwan Suhardi.

Sebelumnya Idwan menuturkan, India sempat menyatakan paling siap menjadi penyedia informasi bila terjadi tsunami dan mengusulkan negaranya sebagai pusat informasi tsunami, namun ditolak banyak negara lain.

Indonesia sebagai yang paling maju dalam TWS mengusulkan informasi tsunami dipusatkan di setiap negara yang kemudian disatukan dalam jaringan, ujarnya.

Pada pertemuan di Brussel 2008, sistem yang diusulkan Indonesia itulah yang kemudian dipakai.

"Indonesia akan siap penuh dalam sistem TWS ini pada November 2008 ini," tambah Jan.
SUMBER: LINTAS BERITA

GUNUNG BERAPI DAN GEJALAHNYA


Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Lebih lanjut, istilah gunung api ini juga dipakai untuk menamai fenomena pembentukan ice volcanoes atau gunung api es dan mud volcanoes atau gunung api lumpur. Gunung api es biasa terjadi di daerah yang mempunyai musim dingin bersalju, sedangkan gunung api lumpur dapat kita lihat di daerah Kuwu, Purwodadi, Jawa Tengah. Masyarakat sekitar menyebut fenomena di Kuwu tersebut dengan istilah Bledug Kuwu

Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.

Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya daripada suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah mati.

Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:

Aliran lava.
Letusan gunung berapi.
Aliran lumpur.
Abu.
Kebakaran hutan.
Gas beracun.
Gelombang tsunami.
Gempa bumi.

Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia
Status Makna Tindakan

AWAS
Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana
Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap
Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam
Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan
Koordinasi dilakukan secara harian
Piket penuh

SIAGA
Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana
Peningkatan intensif kegiatan seismik
Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu
Sosialisasi di wilayah terancam
Penyiapan sarana darurat
Koordinasi harian
Piket penuh

WASPADA
Ada aktivitas apa pun bentuknya
Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal
Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya
Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal
Penyuluhan/sosialisasi
Penilaian bahaya
Pengecekan sarana
Pelaksanaan piket terbatas

NORMAL
Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
Level aktivitas dasar
Pengamatan rutin
Survei dan penyelidikan


Jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya

Stratovolcano
Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini.

Perisai
Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.

Cinder Cone
Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.
Kaldera
Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.

Klasifikasi gunung berapi di Indonesia

Tipe A
Gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.

Tipe B
Gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.

Tipe C
Gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution